Sabtu, 21 November 2015

Saat Ladang Edelweiss Merbabu Dibalut Untaian Angin Kencang




Barang kali, Edelweiss itu hanya sebagian saja dari seluruh cerita, karena semuanya tetap janggal jika hanya diwakili A, B, C, hingga Z..

Malam itu...
Tangan ini masih dingin, kaku, dan tersasa sedikit sakit. Bahkan untuk menggenggam parang pun terasa sulit sekali, sepertinya tanganku terlalu kecil untuk gagang parang yang sebenarnya hanya berbentuk tabung berdiameter kurang lebih enam senti.
Sial…! Ini sudah di ketinggan lebih dari satu setengah kilo dan tenda doom itu belum segera berdiri. Angin terlalu kencang, dan senter kami terlalu minim cahaya. Dasar amatir! Diriku juga. Lima lelaki ini sama sekali tak berdaya mendirikan tenda. Kami hanya bisa bergerak sekuat tenaga untuk meraih peralatan yang kami bawa. Sialnya, banyak pasak yang hilang, sehingga kami harus menggantinya dengan kayu. Aku menebas-nebas kayu sebisanya, dan beberapa pasak pun jadi sekedarnya. Itu mirip kayu lecet-lecet yang terpaksa kusebut sebagai pasak. Apa sih yang bisa dikerjakan oleh tangan yang tiap hari cuma menyenggol bolpen dan keyboard komputer?
Untunglah ada dua orang keluar dari tendanya dan bergegas membantu kami. Mungkin mereka merasa iba setelah mendengar suara ketukan akibat rahangku yang saling mengetuk dan semakin lama semaki keras. Hanya terima kasih yang bisa kami berikan, soalnya mau ngasih apa juga ndak tau.
Tiga puluh menit setelahnya, dua tenda kami sudah berdiri. Lega melihat dua kubah itu nanti bisa mejadi tempat kami menghindar dari terpaan angin yang semakin pagi semakin kencang. Berita bagus lainnya datang, Di depan tenda sudah tersaji mie rebus yang memenuhi nesting bekas perkap TNI AD itu. Mie itu hasil karya tiga perempuan yang bersama-sama dengan kami mencapai Pos IV Merbabu. Tepat jam dua dini hari kami mie rebus sudah masuk ke perut kami. Itu berarti satu jam sejak kami sampai di pos ini.
Badanku sudah beralih temperatur sejak mie rebus yang mengangkut panas mengalir melewati setiap inchi usus di tubuhku. Sleeping bag dibuka dan saatnya merebahkan tubuh setelah lamanya perjalanan kami menuju ladang sabana di merbabu ini. Tak lama setelah itu aku sudah tak bisa merasakan kesadaran dan…. Tiba-tiba angin kencang yang menerpa tenda kami.
Kulihat arlojiku, jam setengah enam. Sudah cukup lama kami beristirahat. Entah terlambat atau tidak, aku tersadar kalau sudah ada sinar di luar sana. Dari dalam Tenda bisa terlihat kalau langit-langit kubahnya tidak segelap waktu sebelum tidur. Aku terperanjat dari bekaman sleeping bag dan berusaha keluar dari tenda. Ada rasa gelisah, seperti akan ditinggal pergi, kecewa karena melewatkan, pesimis akan menemuinya, dan ternyata…
Masih ada sisa sunrise. Leganya bukan main. Begitu cahaya matahari langsung itu masuk ke retinaku, perlahan otot bibirku menunjukkan wajah senyum versi manusia ganteng. Sekitar satu menit aku menikmatinya, dan itu cukup dulu. Tidak afdol jika aku hanya menikmatinya seorang diri.
Di tenda sebelah, perempuan-perempuan itu belum menunjukkan batang hidungnya. Ku panggil-panggil mereka dari luar. Ada satu jawaban dan kurasa itu terdengar hanya setengah nyawa yang menjawabnya. Tapi ya sudahlah, aku tidak tega mengganggu istirahatnya. Tracking malam membuat tubuh kami benar-benar menggigil. Satu dari perempuan itu bahkan sempat teler menghadapinya.
Aku lalu beranjak ke tenda tempat ku menginap semalam, ternyata sudah ada yang terbangun. Lalu mereka bangun dan membawa kedua matanya melihat betapa indahnya langit pagi di ladang sabana ini. Jeprat-jepret kamera menghasilkan gambar menawan yang luar biasa indahnya. Biasanya tanganku tremor dan ndak ada gambar asyik yang bisa ku ambil, tapi kali ini beda cerita. Ada beberapa gambar yang menarik, bahkan temen-temen bilang ini kelas fotografer walau cuma pake kamera digital. Boleh dibilang dah, saat itu aku besar kepala mendadak.
Delapan. Jumlah orang yang berkumpul di bawah hangatnya matahari muda pagi itu. Aku ikut di dalamnya. Ada keceriaan, kesenangan, kebahagiaan, dan bahkan ada rasa puas, walau kami tidak memegangnya ataupun tidak mengecapnya. Tapi kami melihat, merasakannya, dan menganggapnya sebagai salah satu hal yang penting agar kita hidup.
Apakah cukup sampai di situ? Ini baru pos empat kawan. Masih ada tiupan angin di atas tiga ribu meter lagi yang harus kurasakan dan masih ada puluhan kilometer yang harus ku tempuh. Bahkan setelah kaki ini tidak lagi menginjak tanah merbabu, kaki ini akan tetap berjalan searah mataku menatap dan serasa hati ini menginginkan. Berjalan, melihat, merasakan, dan tersenyum. Dunia akan tahu bahwa kita makhluk yang pandai bersyukur.


itu sudah dua tahun lalu kawan....

* kutulis lebih dari setahun lalu dan, hehe, gagal mengantarku jadi travelling writer